SMA NEGERI 1 TENGARAN

  • Beranda
  • Pos
  • Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan di Sekolah: Membangun Karakter dalam Pencegahan Kekerasan di Sekolah. “Kebaikanmu Adalah Perisai bagi Temanmu”

Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan di Sekolah: Membangun Karakter dalam Pencegahan Kekerasan di Sekolah. “Kebaikanmu Adalah Perisai bagi Temanmu”

 

Tengaran, 17 April 2026. Hari Jumat yang cerah jadi momen yang pas untuk menyelenggarakan seminar bertema “Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan di Sekolah: Membangun Karakter dalam Pencegahan Kekerasan di Sekolah.” Kegiatan ini diikuti oleh pengurus OSIS, MPK, tim Adi Pangastuti, serta perwakilan siswa dari tiap kelas. Aula sekolah pun terasa penuh dan hidup oleh antusiasme  peserta.

Acara berlangsung dengan runtut, dimulai dari pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars sekolah, laporan ketua panitia, sambutan kepala sekolah, hingga masuk ke sesi inti seminar yang menjadi bagian paling ditunggu. Kegiatan kemudian ditutup dengan penutup yang hangat.

Seminar ini menghadirkan narasumber inspiratif, yaitu alumni SMA N 1 Tengaran lulusan tahun 2015, Mirdian Tri Dardani, S.Psi., M.Psi., yang saat ini sedang menempuh studi S3 di Amerika Serikat dan juga berprofesi sebagai psikolog. Dengan pengalaman dan sudut pandangnya, materi yang disampaikan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Tema utama yang diangkat, “Kebaikanmu adalah Perisai bagi Temanmu,” mengajak peserta untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama dalam mencegah kekerasan di sekolah. Salah satu materi penting yang dibahas adalah tentang kekerasan berbasis gender (KBG).

Fenomena seperti tren “outfit anti cat-calling” ternyata muncul bukan sekadar gaya, tapi karena masih adanya rasa tidak aman di lingkungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender masih menjadi masalah nyata. KBG sendiri adalah tindakan berbahaya yang ditujukan kepada seseorang karena gendernya, yang seringkali dipicu oleh ketidaksetaraan, penyalahgunaan kekuasaan, dan norma sosial yang kurang tepat.

Dalam seminar juga dijelaskan perbedaan antara seks dan gender. Seks adalah perbedaan biologis yang bersifat tetap, sedangkan gender adalah peran atau harapan sosial yang bisa berubah sesuai budaya dan zaman. Pemahaman ini penting supaya kita tidak salah kaprah dalam melihat suatu masalah.

Kekerasan berbasis gender bisa terjadi di mana saja. Di lingkungan personal seperti keluarga atau hubungan dekat, di lingkungan komunitas seperti sekolah (misalnya bullying atau cat-calling), bahkan di tingkat negara melalui kebijakan atau sikap aparat yang tidak berpihak pada korban.

Hal yang cukup menohok adalah pesan bahwa setiap tindakan kekerasan adalah pilihan. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan kekerasan, meskipun seseorang memiliki latar belakang atau trauma di masa lalu. Memahami penyebab bukan berarti membenarkan tindakan. Yang sering terjadi justru korban yang disalahkan, padahal yang seharusnya kita lakukan adalah mencari akar masalah dan mencegah kekerasan itu terjadi. Di sinilah pentingnya membangun karakter—belajar untuk empati, peduli, dan berani bersikap benar.

Melalui seminar ini, siswa diajak untuk sadar bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa berdampak besar. Bersikap baik, saling menjaga, dan tidak diam ketika melihat kekerasan adalah langkah nyata untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman.

Karena pada akhirnya, kebaikanmu memang bisa menjadi perisai bagi temanmu.